Make your own free website on Tripod.com
LAPORAN KUNJUNGAN MISI DAGANG
KE AFRIKA SELATAN, ZIMBABWE DAN NAMIBIA
TANGGAL 26 MARET - 1 APRIL 2000

Dalam rangka peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral dengan negara-negara Afrika Bagian Selatan (Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Namibia), serta untuk meningkatkan ekspor non migas ke Pasar Non Tradisional dan kemungkinan kerjasama investasi, telah dilakukan Misi Dagang dan Investasi pada tanggal 26 Maret - 1 April 2000.

Misi Dagang tersebut dipimpin oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Bp. M. Yusuf Kalla, didampingi oleh pejabat dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Luar Negeri, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), serta 38 pengusaha nasional di bidang Tekstil dan Produk Tekstil, Furniture, Obat-obatan/Alat Kesehatan, Kosmetik, Barang-barang Listrik, Mesin Pertanian, Engineering/Konstruksi, Solar Energy, Pertambangan, Semen dan lain-lain.

Acara pokok meliputi pembicaraan dengan mitra-Menteri, Temu Usaha (Business Forum), Kontak Dagang (One-on-One Meeting), serta kunjungan ke lokasi berbagai industri. Pada kunjungan ke Johannesburg, Afrika Selatan, telah diresmikan "House of Indonesia". Sedangkan pada kunjungan ke Zimbabwe dan Namibia telah dilakukan penandatanganan MOU antara KADIN Indonesia dengan Namibia CCI dan ZIMTRADE, dalam upaya peningkatan perdagangan yang dilakukan fihak swasta.

Afrika Selatan

Dalam pertemuan dengan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Republik Afrika Selatan, Mr. Alec Erwin, antara lain dibicarakan tentang kemungkinan Indonesia untuk meningkatkan ekspor tekstil, pakaian jadi, produk hasil pertanian dan barang-barang konsumsi lainnya. Pendirian House of Indonesia di Johannesburg merupakan langkah kongkrit untuk mendukung peningkatan ekspor tersebut. Indonesia juga mengharapkan diversifikasi perdagangan melalui kerjasama industri (joint production dan joint manufacturing), antara lain di bidang pertambangan, pertekstilan, dan konstruksi. Kerjasama ini penting mengingat peranan Afrika Selatan dalam wadah Southern African Development Cooperation (SADC).

Di lain fihak Afrika Selatan menawarkan produk-produk antara lain mesin-mesin dan peralatan untuk pertambangan dan pertanian. Dijelaskan pula tentang keberadaan lembaga-lembaga swasta di Afrika Selatan seperti Dewan Ekspor Nasional dan KADIN yang bersifat lebih independent dan sektoral. Misi Dagang dari Afrika Selatan direncanakan akan ke Indonesia pada bulan Oktober 2000, dengan delegasi yang mencakup sektor industri barang modal, pertambangan, pertanian, besi baja, kimia, dan pertekstilan.

Dalam pembicaraan dengan Wakil Menteri Pertambangan dan Energi, terlihat adanya kemungkinan kerjasama pengolahan aluminium dari bauksit di Indonesia, eksplorasi tambang emas (kedalaman 500 m), serta penggunaan teknologi baru dalam pengolahan emas, perak, nikel dan cutting berlian. Afrika Selatan termasuk negara industri pertambangan utama dan salah satu negara produsen batubara terbesar di dunia. Sekitar 70% kebutuhan energi berasal dari batubara, namun merupakan net importer minyak bumi. Industri gas alam sedang dikembangkan bekerjasama dengan Namibia dan Mozambique.

Ekspor Indonesia ke Afrika Selatan mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, dari US$ 23,7 juta (1994) menjadi US$ 169,9 juta (Jan-Nov 1999), atau mengalami pertumbuhan rata-rata 52,23% per tahun (1994-1998). Selama periode 1994-1998 komoditi ekspor seluruhnya merupakan produk non migas. Ekspor migas baru dilakukan pada tahun 1999 dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga sebanyak 99,9% merupakan komoditi non migas. Produk ekspor utama Indonesia ke Afrika Selatan adalah boilers, tekstil, garment, alas kaki, kertas dan produk kertas, karet, produk kayu (plywood), kopi, minyak nabati, kaca, semen, barang kimia, barang konsumsi, kendaraan bermotor, dan industri mineral.

Impor Indonesia dari Afrika Selatan mencapai nilai tertinggi pada tahun 1997 sebesar US$ 245,2 juta, selanjutnya menurun menjadi US$ 112,6 juta pada tahun 1999 (Jan-Nov). Sebagaimana dengan ekspor, impor tersebut lebih dari 99 % merupakan komoditi non migas. Produk utama yang diimpor Indonesia dari Afrika Selatan adalah pulp, aluminium, pupuk buatan pabrik, tembakau, kapas, besi lembaran dan kawat, tembaga, mesin, bahan kimia, benang tekstil dan barang mineral.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Afrika Selatan pada periode 1996-1998 defisit bagi Indonesia, namun berubah menjadi surplus US$ 57,3 juta pada tahun 1999 (Jan-Nov).

Zimbabwe

Pada pertemuan dengan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Zimbabwe, Dr. N. Shamuyarira, dikemukakan bahwa negara tersebut mengharapkan kerjasama dengan Indonesia khususnya di bidang industri pariwisata, kerjasama dan bantuan keahlian dalam industri pesawat terbang (IPTN), otomotif dan telekomunikasi. Juga disinggung peranan kerjasama Selatan-Selatan untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara.

Fihak Indonesia dan Menteri Shamuyarira menandatangani Memorandum of Understanding tentang pembentukan Task Force Kerjasama Industri dan Perdagangan antar KADIN guna mempercepat kerjasama konkrit antara kedua negara.

Ekspor Indonesia ke Zimbabwe seluruhnya merupakan komoditi non migas dengan nilai yang meningkat dari US$ 613,7 ribu (1994) menjadi US$ 6,6 juta (Jan-Nov 1999), atau dengan pertumbuhan tahunan rata-rata (1994-1998) sebesar 66,15%. Komoditi ekspor utama Indonesia adalah kain tenun, alas kaki, benang tekstil, kaca, ban mobil, sabun, garment, dan perabot rumah tangga. Dalam periode yang sama impor Indonesia dari Zimbabwe ternyata lebih besar, meskipun nilainya cenderung menurun, dari US$ 23,1 juta menjadi US$ 17,9 juta. Komoditi impor utama dari Zimbabwe adalah besi lembaran, barang hasil tambang, kapas, bahan mineral, tembakau, seng, dan produk logam lainnya. Akibat nilai impor yang selalu lebih besar dari pada ekspornya maka neraca perdagangan Indonesia dengan Zimbabwe selalu defisit bagi Indonesia, dari US$ 22,5 juta menurun menjadi US$ 11,3 juta.

Namibia

Dalam kunjungan ke Windhoek, Namibia, Delegasi Indonesia berkunjung ke Presiden Namibia, Dr. Sam Nojuma. Beliau menyatakan semangat Asia Afrika yang dipelopori Indonesia diharapkan dapat dipertimbangkan di waktu mendatang melalui kerjasama Selatan-Selatan ( Group 77 plus RRC). Namibia mempunyai sumber daya alam seperti mineral yang dapat dipertukarkan dengan sumber daya alam Indonesia. Pada kesempatan ini Delegasi Indonesia menyerahkan surat dari Bapak Presiden RI kepada Presiden Namibia.

Perdagangan Indonesia dengan Namibia nilainya masih relatif kecil. Data Jan-Nov 1999 menunjukkan ekspor Indonesia ke negara ini baru mencapai US$ 2,6 juta, seluruhnya merupakan komoditi non migas, terutama tekstil dan garment, kendaraan barang, alat-alat listrik, elektronik, sabun, kopi, dan alat rumah tangga. Impor tertinggi tercatat pada tahun 1998, hanya sebesar US$ 23,8 ribu, terdiri atas pipa dan tabung besi atau baja; perlengkapan mesin kantor dan pengolah data; serta pesawat telekomunikasi dan bagian-bagiannya. Neraca perdagangan pada 1999 (Jan-Nov) surplus untuk Indonesia sebesar US$ 2,6 juta.

Hasil yang Dicapai

Dari hasil kontak dagang di ketiga negara , Indonesia mendapatkan pesanan dengan nilai sekitar US$ 2,2 juta (TPT US$ 400.000, Semen US$ 750.000. Furniture US$ 300.000, Obat-obatan dan Alat Kesehatan US$ 550.000, Kosmetika US$ 30.000, dan Blanket US$ 150.000). Selain itu juga telah dilakukan pembicaraan awal untuk mensuplai tempat telepon umum, kabel, solar energy, kerjasama pertambangan emas, bauksit, serta alternatif pemasok kapas bagi industri tekstil Indonesia.

Untuk lebih mendekatkan produk-produk Indonesia ke pasar Afrika Bagian Selatan telah dibuka "House of Indonesia" di Johannesburg dan Harare yang dikelola oleh fihak swasta Indonesia dan pengusaha di kedua kota tersebut. Kehadiran House of Indonesia diharapkan dapat lebih memperkenalkan produk-produk Indonesia di pasaran Afrika Bagian Selatan.

Kunjungan Misi Dagang Indonesia di ketiga negara tersebut telah membuka jalan bagi peningkatan kerjasama bilateral, khususnya hubungan perdagangan. Dalam pertemuan dengan mitra Menteri di ketiga negara tersebut telah dibicarakan langkah-langkah kerjasama bilateral yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi dan sumber daya alam yang tersedia, antara lain di bidang pertambangan, kapas, dan konstruksi/engineering. Selain itu juga disepakati peningkatan kerjasama melalui forum Internasional seperti Kerjasama Selatan-Selatan dan WTO.


Biro Hubungan Masyarakat